Air Terjun Kedung Gender, Pesona Baru di Dukuh Waringin

thumnailkeunggenderAir Terjun Kedung Gender terletak di Dukuh Waringin, Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Dari kota Pati bisa ditempuh lewat Gembong, lalu menuju ke arah Colo (Makam Sunan Muria) selama kurang lebih 30 menit sampai 1 jam perjalanan. Kebetulan salah satu rekan kerja saya ada yang bertempat tinggal di dekat lokasi yang akan kita kunjungi. Beliau juga yang memberitahu saya tentang keberadaan air terjun tersebut. Air terjun Kedung Gender baru dibuka sebagai obyek wisata sekitar 2 atau 3 bulanan. Sebelumnya memang sudah ada, tetapi masih alami dan belum dibuka secara resmi sebagai obyek wisata.

Pagi itu, minggu tanggal 11 September 2016, saya bersama Yunanta, Lia, Indah dan Diva berkumpul di kediamanku untuk berangkat bersama ke Air Terjun Kedung Gender. Kebetulan waktu itu ada hari libur pada Senin 12 September, jadi sobat-sobatku yang tergabung dalam tim Castrawiyata pulang kampung. Tentunya sebuah momen yang tepat untuk bernostalgila setelah lama jarang berkumpul bersama. Sekaligus refreshing setelah beberapa hari penat membuat essay untuk lomba kompetisi Pangan Nasional “fermentation III” yang diselenggarakan Universitas Brawijaya. Sayang sekali rekan saya Jojok dan beberapa yang lainnya belum bisa ikut karena ada acara sendiri. Akhirnya, hanya kami berlima yang berangkat menuju lokasi air terjun kedung gender tersebut.

Setelah berkendara sekitar 45 menit, sampailah kami di kediaman Pak Agus. (Red: Eh, namanya sama dengan saya ya? kita sebut saja pak Agus Susanto biar tidak sama :D). Beliau adalah rekan kerja saya, seorang guru Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Pati. Beliaulah yang nantinya akan menemani kami, karena kami belum tau lokasi air terjun yang akan dituju. Secangkir kopi, teh hangat, pisang susu, serta beberapa cemilan lainnya menemani di sela-sela percakapan dan canda tawa kami, sungguh kenikmatan yang luar biasa diantara udara sejuk dan segar di bawah dekapan keindahan pegunungan muria. Sepertinya warga disini sangat diuntungakan, bisa hemat listrik, karena tidak perlu pasang AC 😀air-terjun-kedung-gender

Setelah selesai menikmati secangkir kopi dan teh hangat, saatnya kami berangkat menuju lokasi. Jalan menuju lokasi sudah ditata sedemikian rupa, termasuk juga sudah ada beberapa warung di lokasi tersebut dari mulai start dan lokasi finish. Untuk menuju ke lokasi, bisa melalui jalan setapak yang sudah disediakan atau menyusuri sungai. Walaupun jalan normal dan manusiawi sudah disediakan, kami lebih memilih jalan menyusuri sungai, karena suasananya lebih eksotis dan rindang dibanding jalur normal. Pohon-pohon bambu raksasa tumbuh dengan subur dan menjulang tinggi di sepanjang sungai menuju air terjun. air-terjun-kedung-gender-2Kami berjalan agak santai, karena terlalu sering berfoto ria mengabadikan eksotisme di sepanjang jalur tersebut. Air di sungai tersebut masih alami dan jernih, dari kejernihan air tersebut, tampak beberapa ikan kecil yang sempat saya abadikan dengan menggunakan kamera xiaomi yi yang sudah dilengkapi casing anti air.

Sebelum sampai di lokasi air terjun, ada beberapa penjual yang sudah siap dengan dagangannya, jadi kalau kita tidak membawa bekal, tidak usah khawatir akan kelaparan. Disitu ternyata sudah banyak wisatawan lokal yang hadir. Kami tidak menyangka bahwa lokasi tersebut akan seramai ini, padahal baru dibuka sebentar beberapa bulan lalu, akan tetapi sudah banyak wisatawan lokal yang berkunjung ke tempat ini. Sepertinya wisata memang kebutuhan banyak orang. Setidaknya dengan dibukanya air terjun ini sebagai tempat wisata, bisa menambah penghasilan dan menumbuhkan perekonomian warga lokal.

Tak terasa, akhirnya kami sampai di lokasi air terjun, sepertinya baru sebentar kami berjalan, kok sudah sampai!! Ternyata jalur dari lokasi kami parkir tadi ke air terjun tidak terlalu jauh. Kata pak Agus Susanto, jaraknya 700 meter atau setengah kilo (Red: Sejak kapan 700 meter=setengah kilo?? Matematikane entuk piro kuwi?? ^_^v). Di tempat, sudah banyak anak-anak kecil yang berenang menikmati segarnya air pegunungan. Air terjun Kedung Gender memiliki air yang masih jernih dan dingin. Ingin rasanya berendam di sana, sayang tidak ada persiapan baju ganti. Jadi kami hanya berfoto-foto sambil menikmati suasana sejuk nan segar lokasi tersebut. Lumayan untuk merefresh otak setelah penat dengan urusan di dunia manusia :D.air-terjun-kedung-gender-6

air-terjun-kedung-gender-3

Budidaya Lebah Klanceng dengan media batang kelapa

Setelah puas menikmati eksotisme air terjun Kedung Gender, kami pulang dengan berjalan lewat jalur normal. Sampai di tempat kami parkir kendaraan, kami mampir di warung dulu menikmati kopi lagi sambil istirahat. Kebetulan di dekat warung juga ada budidaya lebah klanceng. Sekalian berwisata kami juga belajar hal yang baru. Kalau yang kami tahu selama ini, biasanya media yang digunakan untuk budidaya lebah klanceng adalah bambu, seperti yag ada di sebelah markas kami (ruang Adiwiyata), disini agak unik karena menggunakan batang pohon kelapa sebagai medianya. Di sekitar situ juga ada budidaya jamur, kami sempat masuk ke kumbung tempat budidaya jamur tersebut, yang terkesan seperti rumah hantu kalau ada acara pasar malam, karena gelap sekali dan berbentuk lorong. Memang sengaja kumbung tersebut dibuat seperti itu untuk menjaga kelembaban ruangan supaya jamur bis tumbuh dengan baik di tempat tersebut.air-terjun-kedung-gender-4

Karena sudah siang, kami kembali lagi ke kediaman pak Agus Susanto, istimewa sekali, disana kami sudah disediakan beberapa santapan yang nikmat. Kopi, waloh, nasi dan sayur yang entah apa air-terjun-kedung-gender-5namanya sangat terasa nikmat, karena memang kami lapar setelah aktifitas yang membutuhkan kalori tadi. Setelah kenyang, kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan kembali ke kota Pati. Karena setelah fresh dengan suasana pegunungan, Diva, Indah dan Lia harus kembali melanjutkan membuat makalah untuk lomba pangan Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya Malang. Dan saat saya menulis artikel ini, mereka sedang berada di Malang untuk berjuang di babak final setelah melalui perjuangan yang cukup puanjang. Semoga sukses menjadi JUARA!! Terima Kasih untuk pak Agus Susanto yang telah menemani dan menyambut kami dengan istimewa di air Terjun Kedung Gender, sampai jumpa di petualangan berikutnya!!

Untuk lebih jelas mengenai suasana perjalanan ke air terjun Kedung Gender, sobat semua dapat melihat melalui Video yang saya buat di link di bawah ini.

6 thoughts on “Air Terjun Kedung Gender, Pesona Baru di Dukuh Waringin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *