Kuperhatikan Jendela Panjang Itu

Sore tadi, hujan turun dengan lebatnya, seusai mengisi materi navigasi darat di paresmapa, sebuah organisasi pecinta alam dimana aku belajar banyak hal dalam setiap kisah petualanganku. Aku dan beberapa temanku harus menanti hujan reda, karena kami tidak bawa mantel. Siang tadi, saat berangkat dari rumah memang cuaca sangatlah panas, dan tiba-tiba berubah dengan drastis, hingga tidak ada persiapan untuk membawa mantel.jendela-kuno-panjang-sman1pati

Sambil menunggu hujan selesai beredar, beberapa teman bermain game sambil bercandaria, tak ingin menyiakan waktu, aku mencoba membuka laptop dan mengisi detik-detik kekosongan tersebut dengan menulis artikel di blog, beruntung sekali koneksi internet saat itu bener-bener koneksi “dewa”, dewa keong. Alhasil jangankan mau menulis, membuka satu halaman web saja susah. Daripada bengong akhirnya saya putuskan nonton kungfu panda 3 yang baru saya download kemarin, tetapi belum ada 15 menit, baterai laptop sudah habis. Sambil merasakan belaian rintik hujan, aku pandangi jendela-jendela di bangunan yang termasuk cagar budaya itu. Jendela tua berukuran besar dan panjang peninggalan zaman belanda menarik perhatianku. Sebuah jendela yang unik, karena panjang membentang dari bawah keatas. Entah dibuat dengan tujuan estetika atau sebagai pencahayaan untuk sudut ruang dimana terletak tangga sebagai penghubung kelas bawah danĀ atas. Kaca jendela itu kini sebagian dicat warna hijau, dengan tujuan supaya tidak silau. Kenyataannya sudut tangga itu menjadi agak gelap setelah kaca jendala itu tertutup cat. Sepertinya memang benar, setiap desain sudut bangunan kuno itu ada fungsinya. Tak heran hingga sekarang bangunan itu masih kokoh berdiri. Lebih tangguh dari gedung-gedung di sebelahnya yang baru di bangun.

Tiba-tiba imajinasiku melayang seperti mengarah ke jendela itu menembus ruang dan waktu. Terbayang almarhum bapakku yang dulu juga pernah menimba ilmu di sekolah kebanggaan kota Pati tersebut. Tentunya jendela itu saat zaman bapakku sekolah juga sudah ada. Apakah bapakku juga pernah memperhatikan jendela itu dengan seksama? Bagaimana ya tingkah bapakku waktu sekolah dulu? Pertanyaan itu muncul begitu saja. Keluargaku, kecuali ibukku semuanya adalah almamater sekolah tersebut. Mulai dari bapakku dan kedua adikku, jadi cukup berarti sekolah tersebut bagiku.

Dan akhirnya hujan telah reda dan menyisakan sebuah makna, sebagian orang mungkin tak begitu memperhatikan bahwa bias cahaya jendela itu pernah menerangi orang-orang hebat yang dulunya menimba ilmu di sekolah tersebut. Menjadi saksi bisu, betapa semangatnya para siswa saat menaiki tangga menuju kelas. Atau kenakalan mereka saat menjadikan tangga itu sebagai slurudan, padahal itu cukup berbahaya. Jendela tua nan panjang itu kini terlihat renta, mungkin lelah melihat berbagai cerita dari masa ke masa. Menjadi pembawa cahaya dari sekian ribuĀ kisah penuh makna dari generasi ke generasi. Terima kasih untukmu wahai jendela!! Sepertinya aku harus memanggilmu kak jendela atau paman jendela, karena usiamu jauh sekali diatasku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *