Merak di Sangkar Adiwiyata

Merak Hijau

Merak Hijau

Burung merak merupakan burung yang sangat menarik karena keindahan bulu-bulunya. Keistimewaan inilah yang menyebabkan burung ini banyak di pajang di sangkar-sangkar kebun binatang. Pemerintah sendiri telah menaruh perhatian khusus terhadap satwa ini, dengan berupaya untuk mencegah kepunahannya melalui penetapan peraturan undang-undang untuk melindungi burung merak. Kurang lebih begini bunyi peraturannya:

PERINGATAN Burung merak termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa:

  1. Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
  2. Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
  3. Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));

Dari peraturan tersebut jelas sekali bahwa burung merak merupakan satwa liar yang dilindungi undang-undang, dan butuh izin khusus untuk memelihara burung tersebut. Selain itu butuh tim ahli khusus yang mengerti tentang pemeliharaan hewan tersebut untuk kegiatan penangkaran.

Akan tetapi, akhir-akhir ini banyak sekolah yang berubah jadi kebun binatang dadakan dengan dalih penangkaran satwa langka. Padahal setahu saya tidak ada dalam parameter penilaian adiwiyata yang mewajibkan untuk penangkaran tersebut. Sebenarnya yang saya khawatirkan adalah ketika banyak sekolah-sekolah yang dengan mudahnya memelihara satwa dengan dalih penangkaran, akan banyak satwa-satwa tersebut yang mati karena kemampuan sekolah yang kurang dalam penanganan hewan tersebut. Sementara tujuan awal memelihara hewan tersebut adalah untuk menambah point adiwiyata. Kalau memang benar penangkaran, seharusnya hewan tersebut benar-benar dipelihara dan dikembangbiakan, bukan sekedar di pajang sebagai tontonan. Lebih baik lagi jika setelah berkembangbiak ada yang dilepas ke alam liar. Seperti konsep jika kita menebang satu pohon makan kita harus menanam beberapa pohon. Ini juga bisa diterapkan tidak hanya pada tumbuhan tetapi juga pada satwa. Dengan begitu bisa menjaga kelestarian satwa tersebut, agar anak cucu kita juga bisa berkenalan dengan salah satu burung yang memiliki bulu yang indah nan menawan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *