Ngebrak: Ban Bocor, Espresso dan Senyuman Rembulan

13 November 2016

Rembulan menampakan wajah syahdunya, menyinari bebatuan yang tampak remang disela malam. Gemersis air sungai menjadi alunan irama yang menentramkan jiwa, diiringi orkesta serangga-serangga malam yang teristimewa. Beruntung sekali aku bisa berada di tempat ini lagi, setelah sehari sebelumnya berjuang untuk bisa sampai di sini. Ya, sehari sebelumnya. Atau boleh dibilang beberapa jam sebelumnya. Karena saat ini menunjukkan pukul 00.08.

Bermula dari rencana dadakan untuk ngecamp di ngebrak, sebuah tempat istimewa di area pegunungan muria. Dengan menaiki roda dua, aku berangkat dari Pati dengan Juned. Sementara tiga temanku lainnya, Haris, Om Wata dan Kancil telah lebih dulu sampai di tempat itu. Pukul 8.30 kami berangkat dari Pati, menyusuri jalan aspal yang beberapa mulai berlubang. Jalan berlubang, dengan perpaduan dua manusia dan sedikit beban karier, sangat cukup untuk menyiksa ban yang sebelumnya tidak terlalu diisi angin. Alhasil di tengah jalanan pegunungan yang sunyi, perasaan mulai ganjil. Sepertinya ban montor kami ada yang aneh. Ya..ternyata benar ban kami bocor!! Di tengah hutan sunyi yang tidak nampak tanda-tanda peradaban. Suara serigala dan jerit tawa kuntilanak tak terdengar di sini. Dengan terpaksa, montor pun tetap melaju meski sisa angin sudah tak ada lagi mengisi ruang hampa ban belakang montor yang kami tumpangi. Karena rasanya berat dan ribet jika harus menuntun montor di jalan yang menanjak, sementara barang bawaan kami juga banyak.

Di tengah jalan, di saat ban belakang benar-benar sudah mulai kempes, kami berpapasan dengan dua orang pemuda yang sedang nonkrong. Kami pun turun dan bertanya. “Mas ada pompa? ban kami bocor”, Ujar Juned. “Tidak ada mas, coba di bengkel sebelah sana” Kata anak nongkrong tersebut menunjuk ke arah jalan yang sudah kami lewati tadi. Sepertinya yang dimaksud adalah bengkel yang tutup tadi. Mereka pun mengantar kami ke kediaman pemilik bengkel, yang pada waktu malam itu sudah tutup. Aku pun membonceng salah salah satu dari mereka. Di depan rumah pemilik bengkel, mereka pun meninggalkan kami, sepertinya kembali lagi ke tempat tadi. Juned mendorong montornya menuju rumah bapak penambal ban. Jalan menuju rumah tersebut menanjak tajam, membuat juned agak menghabiskan beberapa kalori untuk mendorong montornya tepat di depan rumah tersebut.

Kebetulan sekali di sini sinyal 4 G mifiku full, jadi sambil menunggu ban selesai di tembel, aku masih bisa melihat kondisi dunia maya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras, seperti ada benda besar yang jatuh di rimbunan pepohonan di seberang jalan. Entah apa itu, aku pun cuek melanjutkan berselancar ke dunia maya. Sementara menurut ilmu tafsir Juned, itu adalah suara hewan yang jatuh. Sudahlah!! Anggap saja itu pesawat alien yang jatuh. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya selesai juga bapak tersebut menambal ban montor kami. Sungguh mengherankan ternyata biaya menambal cuma 5000 rupiah. Wow, murah sekali untuk waktu bersantai bapak ini yang sudah kami ganggu demi menambal ban kami. So sweet sekali bapak ini!! Sebagai rasa syukur, karena masih diberi keberuntungan di tengah musibah ban bocor, aku tambahkan beberapa rupiah yang ada di saku, uang kembalian dari membeli bahan memasak tadi di pasar. Di desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, dalam setiap petualanganku, sering kutemukan kearifan lokal seperti ini. Sungguh beruntung bisa merasakan pengalaman batin bersama mereka yang masih kental rasa persaudaraan dan keramah-tamahan yang katanya adalah ciri dari bangsa Indonesia, yang sekarang sudah mulai luntur berganti caci maki dan saling menjatuhkan.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju lokasi ngecamp, tempat yang biasa kami sebut ngebrak, yang sekarang dijadikan obyek wisata air terjun grenjengan, terletak di daerah jolong yang terkenal dengan pabrik kopinya peninggalan zaman penjajahan Belanda. Dalam perjalanan ada sedikit yang aneh, montor yang kami tumpangi sepertinya tidak normal, sehingga agak kesulitan ketika jalanan menanjak. Saat jalanan menanjak, saya yang membonceng juned turun untuk meringankan beban hidup montor yang kami tumpangi. Itupun montor tersebut sepertinya masih tergopoh-gopoh untuk melalui tanjakan-tanjakan jalan berbatu yang belum diaspal tersebut. Laju montor yang kami tumpangi berasa seperti mengangkut beban 3 orang.

Setelah berjuang dan sesekali tergelincir karena genangan air yang membuat jalanan licin, sampailah kami di tempat tujuan. Tiga orang pria sudah berada di tempat tersebut, yang sedang asyik menyeruput kopi. Dua hammoch pun sudah terpasang di pohon sebelah gubuk. Aku pun tak mau ketinggalan action, kubuka laybag, sofa angin yang sedang populer di dunia traveller saat ini. Aku pun berlari kesana kemari  seperti orang gila untuk mengisi angin pada benda tersebut. Alhasil zonk!! percobaan gagal. Ternyata tidak semudah video yang ada di yutub untuk membuat benda ini terisi angin. Ya sudah, tidur di matras saja..saya menyerah untuk malam ini.

Hem..lapar, sepertinya saya belum makan tadi. Ayoo kita memasak!!! Juned sang koki andalan, dengan kepiawaiannya segera memasak mie super lezat. Dalam hitungan kecepatan cahaya, mie itupun lenyap disantap makhuk-makhuk lapar yang tadi sempat menghabiskan beberapa kalori untuk bisa sampai di sini. Setelah perut ini terisi, akupun turun ke sungai yang berada tepat di bawah gubuk kami untuk mencuci peralatan masak. Setelah selesai mencuci peralatan masak, akupun duduk di sebuah batu besar sambil memandangi aliran sungai yang terlihat putih seperti kapas. Sungguh lukisan sang maha pencipta yang sangat eksotis. Malam ini memang tempat ini agak terang karena bulan hampir sepenuhnya utuh. Dua malam lagi, aku dengar di media sosial akan ada supermoon, dimana bulan terlihat sangat besar karena ada fenomena jarak bulan yang sangat dekat ke bumi.

Di tempat inilah aku biasa menginstall ulang pikiran agar menjadi fresh kembali setelah beberapa hari sebelumnya penat dengan urusan duniawi. Tempat dimana rembulan tersenyum dengan manisnya dan suara alunan melodi alam mengiringi dengan mesra. Sungguh perpaduan yang luar biasa untuk mengembalikan kembali ketentraman jiwa yang terusik oleh penat.

Matahari Terbit…

Camping Air terjun grenjengan JolongPagi itu udara sejuk pegunungan dan tetesan embun mengawali hari. Di batu besar di tengah sungai yang airnya sebening embun, aku bersujud memuja keagungan Illahi. Suatu kenikmatan sendiri bisa sholat diatas bebatuan sungai yang berlatarkan keindahan ciptaanNya. Serasa menyatu dengan alam sebagai perwujudan kebesaran Illahi.

Sementara itu. Juned sebagai koki andalan mulai menampilkan kepiawaiannya meracik bumbu-bumbu dapur menjadi menu yang istimewa pagi Itu. Aromanya sungguh menggoda jiwa-jiwa yang lapar. Akupun menyiapkan peralatan untuk membuat kopi espresso. Kopi Toraja oleh-oleh dari adikku saat berkunjung ke Aceh sepertinya sangat istimewa jika disaji kan menggunakan teknik espresso. Kopi Toraja yang kental tanpa ampas sungguh nikmat sekali di sruput pagi itu. Sebuah kesenangan yang luar biasa. Berasa jiwa melayang terbang tinggi mengitari bumi, menyapa puncak-puncak gunung yang menjulang ke langit biru.

Akupun memulai kembali usahaku yang gagal untuk mengisi angin pada kasur anginku. Berlari-lari kembali seperti orang gila untuk sebuah usaha tersebut. Dan akhirnya gagal lagi. Orang gila yang gagal!! Ya sudahlah.aku menyerah. Selang beberapa waktu Kancil meniru usahaku. Dan apa yang terjadi?? Dia berhasil!! Dengan berlari-lari sebentar dia sudah berhasil, sakti sekali dia!! 😮 (Dunia ini memang tidak adil!! :D). Horee..akhirnya bisa juga aku menikmati kasur empukku!! 🙂

laybag. sofa angin

Foto by Haris Rubiyanto

Beberapa saat kemudian rombongan panatia montor trabas datang, hari ini memang sedang ada acara trabas di lokasi ini. Sambil jongkok menikmati menu olahan koki juned, teman-temanku yang memang agak gila sedikit, melihat aksi-aksi penabras-penabras tersebut. Wow..sungguh nikmat sekali hidup mereka!!

Setelah puas menikmati keindahan alam ini, kami pun kembali ke bumi. Hawa-hawa alam semesta membawa kekuatan kembali untuk bertarung dengan segala kepenatan di muka bumi. Sesekali memang refreshing sangat dibutuhkan untuk menyegarkan kembali otak kita. Jalan-jalan itu yang utama, pekerjaan cuma sampingan!! ^_^v.

Sudah..ceritanya sudah selesai!! BERSAMBUNG!!

2 thoughts on “Ngebrak: Ban Bocor, Espresso dan Senyuman Rembulan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *